Jumat, 24 Juni 2011

Tujuan Pendidikan dari zaman Prasejarah Sampai KTSP beserta kurikulum yang digunakan

                 Tujuan Pendidikan dari Zaman Prasejarah Sampai KTSP
   Beserta Kurikulum yang digunakan
Sejarah Pendidikan
No
Tahun
Zaman
Tujuan Pendidikan
1

Prasejarah
Pendidikan pada masa ini dipengaruhi oleh pola dan tingkat berpikir masyarakat yang masih sangat di dominasi atau tergantung kepada alam. Pengaruh sistem kepercayaan dan sistem mata pencaharian terhadap pendidikan masa itu. tujuan, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran berdasarkan studi banding terhadap masyarakat yang masih dalam tahap hidup sangat sederhana, kemungkinan besar masyarakat zaman prasejarah di Indonesia, bersifat langsung dan praktis, serbaguna dan efisien melalui proses pembelajaran dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pendidikan saat itu adalah agar anak-anak kelak dapat memiliki kecakapan istimewa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. manusia yang dicita-citakan pada masa itu adalah manusia yang memiliki semangat gotong-royong, manusia yang menghormati para Empu serta manusia yang taat akan adat.
2

Islam
Ketika agama islam memasuki Indonesia pengarruh ajaran dan cara berfikir hindu masih kuat berakar. Pada masa itu ada 2 tipe guru. yang pertama adalah guru untuk kalangan keraton dan bangsawan yang diundangatau hidup di lingkungan keraton untuk mengajar para putera raja ddan ksatria lainnya. Yang kedua adalah guru pertapa yang bertapa di tempat-tempat yang menyendiri dari keramaian sambil belajar serta mendalami ilmu-ilmu lainnya. Para penyebar agama islam banyak menghubungi para guru tipe kedua ini sehingga melalui merekalah agama islam tersebar luas di Indonesia. Para penyebar agama yang kemudian disebut Wali Sanga dan diberikan sebutan atau gelar Sunan.   Tujuan pendidikan pada Masa Islam di Indonesia  ikut mencerdaskan rakyat dan membawa peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa indonesia
3

Belanda (VOC)
Indonesia banyak pandangan dan pemikiran mengenai bidang pendidikan dan pengajaran, sehingga pemerintah Hindia-Belanda mulai melangkah untuk menangani bidang ini. meskipun lamban perhatian sudah mulai Nampak dengan berpedoman pada prinsip tertentu. Prinsip pendidikan yang diselenggarakan : pemerintah berusaha tidak memihak salah satu agama tertentu, tidak diusahakan untuk dapat hidup secara selaras dengan lingkungannya tetapi lebih ditekankan agar suapaya anak didik dikelak kemudian hari dapat mencari penghidupan atau pekerjaan demi kepentingan kolonial, sistem pesekolahan disusun menurut adanya perbedaan lapisan sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di pulau Jawa, pada umumnya pendidikan diukur dan diarahkan untuk membentuk suatu golongan Elite sosial agar dapat dipakai sebagai alat bagi kepentingan atau keperluan supremasi politik dan ekonomi Belanda di Indonesia.
Pada zaman Belanda Kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism, bertujuan untuk membentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Tujuan Kurikulum 1947 menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain
Tujuan Penddidikan VOC memerlukan tenaga-tenaga pembantu (Murah) dari penduduk pribumi, kepada mereka perlu diberikan pendidikan sekedarnya untuk menjalankan tugasnya
4

Jepang
Tujuan pendidikan pada jaman pendudukan jepang tidak dapat banyak dikemukakan. Memenangkan perang adalah tujuan utama. angkatan bersenjata jepang memberikan sedikit perhatian terhadap pendidikan. Namun demikian hasilnya sangat luar biasa untuk Indonesia di kemudian hari. Dalam hal ini ialah penggunaan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, baik di kantor-kantor maupun di sekolah-sekolah. bangsa Belanda diusir dan ditawan sedangkan bahasa Belanda sama sekali dilarang. Bahasa jepang menjadi bahasa kedua. selama masa pendudukan inilah bahasa Indonesia berkembang dan dipermodern sehingga menjadi bahasa pergaulan dan bahasa ilmiah
Tujuan Pendidikan menyediakan tenaga kerja Cuma-Cuma (Romusha) dan prajurit-prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan jepang. Oleh karena itu pelajar-pelajar diharuskan megikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi ketat. Pada akhir jaman jepang terdapat tanda-tanda tujuan pendidikan menjepangkan anak-anak Indonesia.
5

Orde Lama
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pendidikan pada Masa Orde Lama ialah mendidik masyarakat Indonesia untuk memiliki kemampuan untuk memilki kemampuan mental, spiritual, dan ketrampilan guna mewujudkan masyarakat adil makmur berdasarkab Pancasila sesuai dengan pembukaan dan isi UUD 1945
6

Orde Baru
Program Repelita I. Repelita pada tahap ini yang berlangsung 1969/1970 – 1973/1974. Dalam rencana pembangunan ini pendidikan diarahkan kepada pengadaan lebih lanjut dari tenaga-tenaga kerja pembangunan yang dibutuhkan dalam masyarakat yang sedang membangun. dengan kata lain, diarahkan agar usaha-usaha di lapangan pendidikan itu mampu untuk menjadikan sektor pendidikan sebagai faktor penunjang bagi sektor pembangunan. Pada zaman Orde baru banyak mengalami pergantian kurikulum. kurikulum yang berlaku pada saat itu adalah :
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh kon sep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu renca na pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa d itempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).

Kurikulum 1984 ini berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
Tujuan Pendidikan ialah pendidikan diarahkan kepada pengadaan lebih lanjut dari tenaga-tenaga kerja/pembangunan yang dibutuhkan dalam masyarakat yang sedang membangun. dengan kata lain diarahkan agar usaha-usaha di lapangan pendidikan itu mampu untuk menjadikan sector pendidikan itu mampu untuk menjadikan sector pendidikan sebagai faktor penunjang bagi sector pembangunan
7

Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.
8

Kurikulum 2004
 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan
dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. (sumber: depdiknas.go.id)
9

Kurikulum KTSP
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi.
pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.




















DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Pendidikan Indonesia dari Jaman ke Jaman.1985. Balai Pustaka : Jakarta.
Djamhur & Danasuparta. Sejarah PendidikanPen. CV. Ilmu Bandung.
Makalah-makalah dari Kelompok Diskusi Sejarah Pendidikan.2011. Makalah Pendidikan Masa Prasejarah, Makalah  Pendidikan Masa Belanda, Makalah Pendidikan Islam, Makalah Pendidikan Masa Jepang, Makalah Pendidikan Zaman Orde Lama, Makalah Pendidikan Zaman Orde Baru.

Sumber Internet
http://Ahmadi/2008/28/10/ Sejarah PerkembanganKurikulumdiIndonesiaTahun1947-2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar